Rabu, 06 Juni 2012

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN TENTANG PERANAN FILSAFAT


FILSAFAT PENDIDIKAN TENTANG PERANAN FILSAFAT



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Filsafat adalah salah satu lapangan pemikiran dan penyelidikan manusia yang amat luas (komprehensif). Filsafat menjangkau semua persoalan dalam daya kemampuan pikir manusia. Filsafat mencoba mengerti, menganalisis, menilai dan menyimpulkan semua persoalan-persoalan dalam jangkauan rasio manusia secara kritis, rasional dan mendalam (Usiono:2006:11-12).
Umumnya filsafat selalu menanyakan tiga pertanyaan dasar. Yang Pertama : “Apakah yang nyata itu?”. Cabang filsafat yang membicarakan ini secara formal disebut ontologi, yaitu studi tentang apa yang ada dan apa yang tidak ada.
Kedua : “Apakah yang benar itu?”. Problema ini mempunyai kaitan yang erat dengan problema pertama. Dengan pertanyaan ini kita ingin mengetahui, bagaimana yakinnya kita tentang pertanyaan kita tentang kenyataan ini. Dan masalah ini digolongkan kepada apa yang dinamakan Epistemologi, yaitu studi tentang pengetahuan atau bagaimana kita mengetahui (adanya) benda-benda.
Ketiga : “Apakah yang baik/bagus itu?”. Dalam pembicaraan formal, biasanya masalah ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pertanyaan tentang ethika (Apakah kelakuan yang baik itu?), Dan juga pertanyaan tentang esthetika (Apakah yang indah/bagus itu? Kedua pertanyaan ini pembicaraan kita tidak banyak menyangkut realitas atau kebenaran akan tetapi menyangkut nilai. Hal-hal yang disebutkan ini banyak dikenal dengan ungkapan Aksiologi, yaitu studi tentang nilai (Prasetya:1997:86-87).

B.       Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini ialah agar kita memahami apa sebenarnya filsafat itu dan apa saja yang dibahas dalam lapangan filsafat. Dan semoga setelah apa yang kita dapat atau kita ketahui dari pembelajaran ini dapat membantu kita dan menjadikan kita seorang gpendidik yang dapat berfikir dan bertindak dengan benar yang dapat menyelesaikan masalah-masalah (persoalan) yang ada dalam proses belajar mengajar ataupun kehidupan sehari-hari dan dapat memahami ketiga masalah utama dalam filsafat ini.

C.      Perumusan Masalah
Adapun masalah yang akan penulis bahas dalam makalah ini ialah:
A.     Apakah yang dimaksud dengan Ontologi?
B.      Apakah yang dimaksud dengan Epistemologi?
C.      Apakah yang dimaksud dengan Aksiologi?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      ONTOLOGI
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan dibidang ontologi. Yang tertua diantara segenap filsafat Yunani yang kita kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.
Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas sekali, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat adalah realitas; realita adalah ke-real-an, Riil artinya kenyataan yang sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah (Amsal Bakhtiar:2011:131).
Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani: On = being, dan logos =logic. Jadi ontologi adalah The theory of being qua being (teori tentang keneradaan sebagai keberadaan). Louis O. Kattsoff dalam Elements of Filosophymengatakan, Ontologi itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikaran ontologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa airlah yang menjadi ultimate subtance yang mengeluarkan semua benda. Jadi asal semua benda hanya satu saja yaitu air (Amsal Bakhtiar :2011:132).
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kuasa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur, dan tertib dalam keharmonisan (Suparlan Suhartono:2007;44).
Term ontologi pertamakali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Untuk menemui teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangannya Christian Wolff (1676-1754 M) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedang metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi (Amsal Bakhtiar:2011:134:135).
Obyek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa obyek formal dari ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Hal senada juga dilontarkan oleh Jujun Suriasumantri, bahwa ontologi membahas apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada (Jujun S. Suriasumantri:1999:34;35).
Kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.
Didalam pemahaman ontologi dapat dikemukakan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut :
1.           Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Paham ini kemudian terbagi dalam kedua aliran :
a.           Materialisme
Aliran ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme.
Kalau dikatakan bahwa materialisme sering disebut naturalisme, sebenarnya ada sedikit perbedaan diantara dua paham itu. Namun begitu, materialisme dianggap suatu penampakan diri dari naturalisme. Naturalisme berpendapat bahwa alam saja yang ada, yang lainnya di luar alam tidak ada.
b.           Idealisme
Sebagai lawan materialisme adalah aliran idealisme berarti serba cita, sedang spiritualisme berarti serba ruh.
Idealisme diambil dari kata “Idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
2.           Dualisme
Setelah kita memahami bahwa hakikat itu satu (monoisme) baik materi ataupun ruhani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme. Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari ruh, dan ruh bukan muncul dari benda.
Tokoh paham ini adalah Descrates (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).
3.           Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua.
4.           Nihilisme
Nihilisme berasal dari Bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
5.           Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusi untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknownA artinya notGno artinyaknow.
Timbulnya aliran ini dikarenakan belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya suatu kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat kita kenal.


B.       EPISTEMOLOGI
Istilah epistemologi berasal dari bahsa Yunani Kuno, dengan asal kata“episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” yang berarti teori, secara etimologi, epistemologi berarti teori pengetahuan. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang membahas tentang asal, struktur, metode, serta keabsahan pengetahuan.
Menurut Lengeveld (1961). Epistemologi membicarakan hakikat pengetahuan, unsur-unsur dan susunan berbagai jenis pengetahuannya pangkal tumpuannya yang fundamental, metode-metode dan batasannya (Usiono:2006:56).
a.           Hakikat Pengetahuan
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan (Jujun S. Suriasumantri:1999:104).
Apakah sebenarnya yang dinamakan pengetahuan itu? .terhadap tentang hakikat pengetahuan ini dua aliran, yaitu realisme dan idealisme, menjawab saling bertentangan. Menurut realisme (serba nyata), pengetahuan adalah salinan objektif (menurut kenyataan) dari apa yang ada dalam alam yang sesungguhnya (fakta atau hakikat). Sedangkan menurut idealisme (serba cita), pengetahuan adalah gambaran subjektif (menurut tanggapan) tentang apa yang ada dalam alam yang sesungguhnya.
Jadi menurut realisme, pengetahuan itu tidak lain adalah potret yang persis sama dengan keadaan yang sebenarnya. Berbeda halnya dengan pendapat tersebut, idealisme berpendapat bahwa pengetahuan hanyalah rekaan akal yang jelas mustahil sama dengan hal yang sebenarnya. Apabila ditelaah lebih jauh, pendapat realisme ada benarnya jika diperhatikan dari arti definitif tahu sebagai mencamkan objek, jadi menangkap sasaran sebagaimana adanya. Akan tetapi, idealisme pun tidak salah kalau orang memahami arti tahu sebagai kegiatan akal, jadi cenderung bergeser dari semestinya (Prasetya:1997:111).
b.           Unsur Pengetahuan
Pada definisi tahu menurut Langeveld, tersirat unsur pengetahuan, yaitu pengamatan (mencamkan), sasaran (objek), dan kesaddaran (jiwa). Ketiga kesatuan ini merupakan kesatuan yang saling mengikat.
c.           Macam Pengetauhan
Dilihat dari segi lingkup sasarannya, ada dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan umum dan pengetahuan khusus. Pengetahuan umum masuk kedalam dunia idea, tertangkap dalam pikiran, berada dalam alam abstrak, dan ketentuannya berlaku universal. Sedangkan pengetahuan khusus masuk kedunia dalam empiris, tertangkap dalam pengalaman, berada dalam alam konkrit, dan ketentuannya berlaku partikular.
d.          Tumpuan Pengetahuan
Secara garis besar ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengalaman (empirie) dan pemikiran (ratio). Yang pertama dikemukakan oleh empirismedan yang kedua oleh rasionalisme.
Emperisme berpendapat bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan. Segala pengetahuan berutmpu pada pengalaman. Tidak ada pengetahuan tanpa pengalaman lebih dahulu. Dengan demikian pengetahuan menurut alira ini bersifat a pasteriori.
Rasionalisme berpendapat bahwa segala pengetahuan berasal dari sumber yang tidak terdapat pada pengalaman. Ditegaskan oleh DR.M.J.Langeveld bahwa sumber itu adalah pikiran. Pengetahuan terjadi karena akal mengolah bahan pengalaman (lahir batin) maupun bahan murni akal.
e.           Batas Pengetahuan
Ada dua teori yang mengutarakan persoalan wilayah pengetahuan, yaituskeptisisme dan objektivisme.
Skeptisisme berpandangan bahwa  wilayah pengetahuan hanyalah apa yang sekarang (pada saat ini) ada dalam jiwa saat rekaan, yang terdapat pada jiwa dalam kesadaran sesaat. Pada saat berikutnya, halitu tidak lagi menjadi batas pengetahuan karena telah berlalu.
Sedangkan objektivisme berpendapat bahwa wilayah pengetahuan adalah keseluruhan kebenaran objektif yang terlepas dari subjek, dalam arti kebenaran itu tidak perlu terlaksana dalam kesadaran. Dengan kata lain, luas pengetahuan adalah seluruh perbendaharaan pengetahuan yang ada dalam jiwa, dengan ketentuan tidak semuanya harus  disadari.
f.            Sasaran Pengetahuan
Masalah terakhir yang dibahas oleh epistemologi adalah sasaran pengetahuan. Ada dasarnya sasaran pengetahuan adalah hal yang terpisah dari pengetahuan itu sendiri, mengingat ia berada diluar pihak yang berpengetahuan, yaitu manusia, meskipun suati ketika pemikiran (manusia) itu sendiri. Perlu dipahami bahwa sebagai sasaran pengetahuan, seluruh sarwa sekalian bukan tujuan pengetahuan ilmiah ataupun filsafat. Sasaran (objek) berbeda dari tujuan (aim). Sasaran adalah dimana posisi dimana tujuan bisa dicapai; sedangkan tujuan adalah kondisi (keadaan) yang dikehendaki perwujudannya. Jadi mustahil tujuan tercapai tanpa adanya sasaran.

C.      AKSIOLOGI
Aksiologi adalah studi tentang nilai. Nilai adalah sesuatu yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan. Nilai yang dimaksud adalah :
a.        Nilai jasmani : nilai yang terdiri atas nilai hidup, nilai nikmat, dan nilai guna.
b.       Nilai rohani : nilai yang terdiri atas nilai intelek, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religi.
Untuk lebih mengenal apa yang dimaksud dengan aksiologi, penulis akan menguraikan bebrapa definisi tentang aksiologi, diantaranya :
1.           Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah “teori tentang nilai”(Burhanuddin Salam:1997:168).
2.           Sedangkan arti  aksiologi yang terdapat dalam bukunya Jujun S. Suriasumantri Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. Suriasumantri:1999:234).
3.           Menurut Bramel, aksiologi yang terdapat dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika. Kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Ketiga, sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosio-politik (Amsal Bakhtiar:2011:163-164).
Dari definisi-definisi mengenai aksiologi diatas, terlihat dengan jelas bahwa permasalahan yang utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimilki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang didalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.
Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat kalau dikatakan bahw abjek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjaudari segi baik dan tidak baik dalam suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimilki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.
Nilai itu subjektif ataukah objektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya, maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisis. Dengan demikian, nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang. Misalnya, seorang melihat matahari yang sedang terbenam di sore hari. Akibat yang dimunculkannya adalah menimbulkan rasa senang karena melihat betapa indahnya matahari terbenam itu. Ini merupakannilai yang subjektif dari seseorang dengan orang lain akan memiliki kualitas yang berbeda (Amsal Bakhtiar:2011:165).

BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
          Ontologi
Ontologi adalah teori tentang ada dan realitas. Meninjau persoalan secara ontologis, adalah mengadakan penyelidikan terhadap sifat dan realitas dengan refleksif rasional serta analisis dan sintesis logika.
          Epistemologi
Persoalan pokok yang dipertanyakan adalah tentang bagaimana sesuatu yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahuinya, bagaimana pula kita membedakan yang benar dan yang salah.
Bagaimana adalah pertanyaan yang berkaitan dengan keadaan, jadi berkenaan dengan situasi dan kondisi, dimensi ruang, dan waktu itu.
          Aksiologi
Aksiologi adalah penerapan ilmu. Penerapan ilmu pengetahuan dapat diketahui pertama-tama dari klasifikasinya, kemudian dengan melihat tujuan ilmu itu sendiri, dan yang terakhir perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.
Katsoff, Louis. Element of Philosophy, New York: The Roland Press Company,1953.
Prasetya. Filsafat Pendidikan, Bandung: Pustaka Setia, 1997.
Salam, Burhanuddin. Logika Materil Filsafat Ilmu Pengetahuan, Jakarta: RenekaCipta, 1997.
Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999
Usiono. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan, Medan: Perdana Publishing, 2006.
Suparlan Suhartono. Filsafat Pendidikan 2007. Yogyakarta: Kelompok Penerbit Ar
Ruzz Media.

www.forum-fm.blogspot.com
◄ Newer Post Older Post ►